Live In
Hai.. ini adalah postingan
pertamaku.. pada kesempatan hari ini saya akan membagikan pengalamanku mengenai
live in. Live in adalah kegiatan dimana kita tinggal di daerah yang mempunyai
kultur dan atau budaya yang berbeda. Biasanya dilakukan ‘orang kota’ yang
ditempatkan di daerah pedesaan yang masih kental akan rasa ‘kedesaannya’. Ini
adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh sekolah saya, SMA Yos Sudarso
Karawang.
Sekolah
saya mengadakan kegiatan live in ini pada tanggal 26 Oktober-1 November 2015, bertempat
di desa Tambak Rejo dan Donoharjo, Sleman, Jawa Tengah. Total orang yang
mengikuti kegiatan ini cukup banyak, melibatkan 3 kelas 12 dan 7 orang guru,
termasuk kepala sekolah. Kami berangkat jam 6 sore dari Karawang, dan karena
ada masalah di jalan, kami sampai di tujuan kami pada pukul 9 pagi melalui
jalur Pantura.
Sesampainya
di Tambak Rejo, kami disambut para warga di Gereja Setempat. Kalau tidak salah,
di sana terbagi dalam 7 lingkungan, khusus Tambak Rejo. Yang lainnya saya
kurang tau, karena lokasinya terbagi menjadi 5 bagian. Kegiatan kami pada hari
pertama adalah sosialisasi kepada ‘pamong’ kami masing-masing dan sekitarnya.
Pada hari kedua sampai hari ke-4
kegiatan kami hanya sosialisasi dan hidup dengan ‘pamong’ kami
masing-masing.
![]() |
| foto bersama teman sedusun Tambak Rejo |
Hari
kelima, kami kerja bakti pada gereja setempat. Sesudah itu, kami diajarkan cara
bermain gamelan. Saya senidiri bermain bonang pada saat itu, dan menurut saya,
bermain bonang adalah salah satu yang tersulit karena kita bermain seperti
cermin. Bonang terdiri atas 2 bagian, yang depan dan belakang. Nada pada bagian
belakang terbalik dengan nada pada bagian depan. Jadi, bonang bagian depan
mempunyai nada 1,2,3,5 dan 6, sedangkan pada bagian belakang, nadanya dimulai
dari 6,5,3,2,1. Terbalik dan harus dipukuil bersama.
Hari
keenam, kami berwisata ke Candi Borobudur. Di sana kawasannya terasa sangat
asri dengan pemandangan yang menakjubkan. Tetapi di sana jalan keluarnya
menurut saya sangat jauh jarak tempuhya. Setelah kami berwisata ke Candi
Borobudur, kami berangkat ke Ketep Pass. Di sana kami makan dan menonton film
Letusan Gunung Merapi dengan tiket masuk 7000 rupiah saja. Setelah selesai
menonton filmnya, kami berfoto-foto di Ketep dan menikmati indahnya pemandangan
yang disajikan di sana.
![]() |
| foto bersama turis dari Jepang |
![]() |
| foto bersama turis asing |
![]() |
| foto di Ketep Pass bersama kelas 12 IPA |
Hari
ketujuh, saatnya kami pulang. Sebelum pulang, kami singgah sebentar di
Malioboro untuk menikmati pemandangannya dan berburu oleh-oleh. Saya sempat
mampir ke Keraton di sana. Setelah kami selesai berburu oleh-oleh, kami pulang
dari sana pukul 3 sore melalui jalur selatan. Kami sampai di Karawang jam 6
pagi. Sungguh melelahkan, namun mengasyikan. Jadi, menurut saya, pandangan live
in yang terlalu ‘kedesaan’ yang dianggap tidak menarik sebenarnya sangat
mengasyikan. Oiya, pada saat live in kami media komunikasi diwajibkan untuk
dititpkan kepada guru-guru kami. Jadi, foto yang saya punya sangat sedikit.
Sekian
posting dari saya, jika ada yang kurang berkenan saya mohon maaf. Semoga dapat
memberikan kesan tersendiri kepada pembaca. Sampai jumpa di posting berikutnya.



