Rabu, 02 Desember 2015

Live In

Hai.. ini adalah postingan pertamaku.. pada kesempatan hari ini saya akan membagikan pengalamanku mengenai live in. Live in adalah kegiatan dimana kita tinggal di daerah yang mempunyai kultur dan atau budaya yang berbeda. Biasanya dilakukan ‘orang kota’ yang ditempatkan di daerah pedesaan yang masih kental akan rasa ‘kedesaannya’. Ini adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh sekolah saya, SMA Yos Sudarso Karawang.
                Sekolah saya mengadakan kegiatan live in ini pada tanggal 26 Oktober-1 November 2015, bertempat di desa Tambak Rejo dan Donoharjo, Sleman, Jawa Tengah. Total orang yang mengikuti kegiatan ini cukup banyak, melibatkan 3 kelas 12 dan 7 orang guru, termasuk kepala sekolah. Kami berangkat jam 6 sore dari Karawang, dan karena ada masalah di jalan, kami sampai di tujuan kami pada pukul 9 pagi melalui jalur Pantura.
                Sesampainya di Tambak Rejo, kami disambut para warga di Gereja Setempat. Kalau tidak salah, di sana terbagi dalam 7 lingkungan, khusus Tambak Rejo. Yang lainnya saya kurang tau, karena lokasinya terbagi menjadi 5 bagian. Kegiatan kami pada hari pertama adalah sosialisasi kepada ‘pamong’ kami masing-masing dan sekitarnya. Pada hari kedua sampai hari ke-4  kegiatan kami hanya sosialisasi dan hidup dengan ‘pamong’ kami masing-masing.
foto bersama teman sedusun Tambak Rejo

                Hari kelima, kami kerja bakti pada gereja setempat. Sesudah itu, kami diajarkan cara bermain gamelan. Saya senidiri bermain bonang pada saat itu, dan menurut saya, bermain bonang adalah salah satu yang tersulit karena kita bermain seperti cermin. Bonang terdiri atas 2 bagian, yang depan dan belakang. Nada pada bagian belakang terbalik dengan nada pada bagian depan. Jadi, bonang bagian depan mempunyai nada 1,2,3,5 dan 6, sedangkan pada bagian belakang, nadanya dimulai dari 6,5,3,2,1. Terbalik dan harus dipukuil bersama.
                Hari keenam, kami berwisata ke Candi Borobudur. Di sana kawasannya terasa sangat asri dengan pemandangan yang menakjubkan. Tetapi di sana jalan keluarnya menurut saya sangat jauh jarak tempuhya. Setelah kami berwisata ke Candi Borobudur, kami berangkat ke Ketep Pass. Di sana kami makan dan menonton film Letusan Gunung Merapi dengan tiket masuk 7000 rupiah saja. Setelah selesai menonton filmnya, kami berfoto-foto di Ketep dan menikmati indahnya pemandangan yang disajikan di sana.
foto bersama turis dari Jepang
foto bersama turis asing
foto di Ketep Pass bersama kelas 12 IPA
                Hari ketujuh, saatnya kami pulang. Sebelum pulang, kami singgah sebentar di Malioboro untuk menikmati pemandangannya dan berburu oleh-oleh. Saya sempat mampir ke Keraton di sana. Setelah kami selesai berburu oleh-oleh, kami pulang dari sana pukul 3 sore melalui jalur selatan. Kami sampai di Karawang jam 6 pagi. Sungguh melelahkan, namun mengasyikan. Jadi, menurut saya, pandangan live in yang terlalu ‘kedesaan’ yang dianggap tidak menarik sebenarnya sangat mengasyikan. Oiya, pada saat live in kami media komunikasi diwajibkan untuk dititpkan kepada guru-guru kami. Jadi, foto yang saya punya sangat sedikit.

                Sekian posting dari saya, jika ada yang kurang berkenan saya mohon maaf. Semoga dapat memberikan kesan tersendiri kepada pembaca. Sampai jumpa di posting berikutnya.